- KEPALA MTSS ULUMUDDIN MENGHADIRI ACARA TEPUNG TAWAR PENGAWAS KOTA LHOKSEUMAWE BERANGKAT JAM\\
- KEGIATAN TRAINING OF TRAINER SANTRI DAMORA KE MTSS ULUMUDDIN
- HARI BURUH NASIONAL
- HARI PENDIDIKAN NASIONAL (HARDIKNAS)
- PELATIHAN GURU MTSS ULUMUDDIN DENGAN JUDUL GURU SANG MUTIVATOR
- PEMBERIAN APRESIASI OLEH WAKILO KEPALA BIDANG KESISWAAS KEPADA SANTRI YANG SUDAH MENGKAHATAM AL QUR
- MTSS ULUMUDDIN MELAKSANAKAN ASESMEN MADRASAH UNTUK KLS IX MULAI TANGGAL 20 APRIL S/D 26 APRIL 2026
- KEPALA MTSS ULUMUDDIN MENGHADIRI ACARA BIMTEK PENYUSUNAN SOAL AM KELAS IX TAHUN AJARAN 2025/2026
- KEPLA MTSS ULUMUDDIN MENGIKUTI KEGIATAN BIMBINGAN TEKNIS TES KOMPETENSI AKADEMIK
- WISUDA SANTRI DAYAH ULUMUDDIN G-30
Banyak Gereja yang Tampung Pengungsi Muslim Palestina

GAZA - Agresi Israel di Gaza meninggalkan duka mendalam bagi warga Palestina. Tidak hanya kehilangan nyawa, warga Palestina yang selamat harus tega melihat rumah mereka porak poranda dihancurkan Israel.
Penduduk Palestina pun saat ini tinggal di tempat-tempat penampungan sementara. Salah satu tempat penampungan yang ada di Gaza adalah sebuah gereja Orthodoks Yunani, Santo Porphyrius.
Gereja ini menampung hampir 1.000 pengungsi Palestina yang mayoritas bergama Islam. Tidak hanya menyediakan tempat tinggal, Gereja Santo Porphyrius turut memberikan makanan, minuman, selimut, tempat duduk, mainan dan bahkan halaman belakang yang biasa digunakan bocah Palestina bermain sepak bola.
"Kami membuka gereja untuk menolong warga, ini sudah menjadi tugas gereja dan kami akan membantu mereka sekuat tenaga," sebut salah satu pengurus gereja, Archbishop Alexios, seperti dikutip dari Arab News, Rabu (23/7/2014).
"Awalnya ada 600 warga dan sekarang sudah ribuan, kebanyakan dari mereka adalah peremupuan, anak-anak dan orang tua yang kondisinya lemah," tambah dia.
Gereja Santo Porphyrius memang bukan tempat yang paling aman bagi pengungsi Palestina. Pasalnya, tidak lama setelah para pengungsi berdatangan, roket dari Israel menerjang daerah dekat gereja tersebut.
Namun hal ini dapat menjadi bukti bagaimana agresi Israel tidak meruntuhkan semangat warga Palestina untuk tetap bersatu dan saling membantu tanpa memandang ras, etnis atau agama.
Sekedar informasi, warga Kristen Palestina merupakan penduduk minoritas. Jumlah mereka hanya sekitar 1.400 jiwa.










